Hidangan Pecel Lele ala Gourmet Kreasi Chef Ben Ungermann

0
108
Maxresdefault
Maxresdefault

Jika berbicara tentang kuliner jalanan khas Indonesia, maka kita tidak akan asing dengan pecel lele. Pecel lele merupakan salah satu kuliner jalan paling populer, sehingga sering terlihat hampir di seluruh sudut kota besar. Pecel lele sendiri adalah kuliner yang berasal dari Jawa Tengah. Sebenarnya resep pecel lele sangat sederhana, yaitu ikan lele yang digoreng kering dan diberi topping sambal tomat serta diberi lalapan seperti mentimun, daun kemangi, dan kubis. Dikenal dengan kesederhanaan dan rasa yang enak, kemudian muncul inovasi seorang chef bernama Ben Ungermann menjadikan kuliner sederhana ini disajikan selayaknya gourmet.

Dikutip dari CNN Indonesia, Ben Ungermann adalah runner-up kompetisi Masterchef Australia 2017. Sebelum memasuki kompetisi, dia sudah menyukai memasak dan mulai memasak makanan tradisional Belanda sejak umur 15 tahun diajarkan oleh sang nenek.  Semenjak kecil, dia tidak percaya diri dengan kemampuannya mampu bersaing di kompetisi, tapi pada tahun 2017, dia memberanikan diri dan menjadi juara kedua di kompetisi tersebut. Dan semenjak di kompetisilah, dia merasakan bahwa memasak menjadi passionnya dan masakan andalannya adalah es krim sehingga dijuluki raja es krim.

Pria asal Australia ini sebenarnya memiliki darah Indonesia, dikarenakan ayahnya adalah keturunan Indonesia-Belanda, sedangkan ibunya adalah asli Belanda. Dia memang sangat menyukai kuliner khas Indonesia seperti nasi goreng dan pecel lele. Kecintaannya terhadap kuliner Indonesia diawali kecintaan terhadap nasi goreng buatan tantenya. Dikarenakan kesukaannya inilah, Ben ingin membuat pecel lele dengan gaya gourmet. Perbedaan yang sangat jelas terdapat pada segi penataan atau platting. Selain itu juga terdapat perbedaan cara memasak.

“Ikannya sendiri di-marinate (direndam dalam bumbu seperti garam dan sejenisnya hingga meresap) dan di-deep fried (goreng dengan minyak banyak), sama seperti yang Anda lakukan di sini. Kemudian tulang-tulang ikannya saya keluarkan, direbus, batter (dicelupkan dalam adonan tepung renyah) dan digoreng sampai renyah seperti biskuit. Disajikan bersama sambal nikmat.”, tuturnya.

BACA JUGA:  Beberapa fakta perlawanan di Puncak Kabo, hingga penyerangan helikopter dan ditemukannya 15 jasad

Setelah menciptakan resep ini, Ben berencana untuk memasukannya ke dalam menu di restoran miliknya. Hanya saja terdapat masalah antara selera lidah Eropa dengan selera lidah Asia Tenggara, khususnya Indonesia, dimana kadar kepedasan dan ketajaman rempah yang tidak cocok untuk disajikan disana. Maka dari itu, dia mengatur tingkat kepedasan sambal sehingga sesuai dengan selera orang Eropa.

Selain masalah rasa, terdapat juga penyesuaian saat penyajian. Jika di Indonesia, penyajian pecel lele cenderung “berantakan”, yaitu nasi disajikan terpisah, sedangkan ikan lele disajikan bersama sambal dan lalapan di atas satu piring. Sedangkan penyajian untuk di restoran tentu saja disajikan dengan begitu rapi dan tentunya menggugah selera makan.

Rasa makanan memang tergantung dengan masalah selera. Maka dari itulah tugas seorang chef untuk menjembatani itu semua. Itulah yang menjadi salah satu cita-cita Ben agar bisa menyampaikan pesan yang terdapat di satu daerah ke daerah lain. Dan tentunya semua itu tidak dilalui dengan mulus, untuk mencapainya diperlukan jalan yang terjal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here